internship kemenkes
Magang

Sebelum Kuliah Kedokteran, Yuk Pahami Bedanya Co-Ass dan Internship Kemenkes

Kuliah di Kedokteran adalah jalan panjang dan berliku. Setelah lulus kuliah dan mendapat gelar Sarjana Kedokteran (S. Ked), mahasiswa kedokteran gak bisa langsung membuka praktik. Masih ada yang namanya co-ass dan program internship dokter yang diadakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Lho, apa beda antara keduanya?

Apa Itu Co-Ass?

Co-Ass (Co-Assistant) atau bisa menyebutnya dengan dokter muda merupakan program profesi jurusan kedokteran yang umumnya berlangsung 2 tahun. Di tahap ini, seorang co-ass akan berhadapan dengan pasien beneran. Ia harus siap mendiagnosis penyakit, memeriksa fisik pasian, dan membuat resep orang.

Seorang co-ass akan berpindah-pindah ke beberapa rumah sakit dan menjalani rotasi di setiap departemen seperti bedah, penyakit dalam, dan sebagainya. Tujuannya seperti magang pada umumnya, yaitu agar mahasiswa kedokteran bisa menimba pengalaman sebelum benar-benar menjadi seorang dokter.

Setelah rotasi dan lulus ujian co-ass, kamu akan mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD). Usai lulus, mahasiswa bisa ikut yudisium dan bisa melakukan sumpah dokter. Nah, setelah selesai bersumpah, kamu bisa menyandang status dokter, nih.

Perbedaan Co-Ass dan Internship Kemenkes

Namun, meski kamu telah menyandang status dokter, gak serta-merta kamu bisa buka praktik. Kamu harus menjalankan internship di Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Setiap dokter lulusan baru akan dikirim ke rumah sakit atau puskesmas di seluruh Indonesia. Lama internship ini biasanya setahun.

Seorang dokter muda bisa memilih wahana (rumah sakit/ puskesmas). Namun gak semudah itu, karena berdasarkan aturan Kemenkes, sistemnya rebutan alias siapa cepat dia dapat. Sistem pemilihannya juga secara online dan serentak secara nasional. Wah, coba kamu bayangkan rebutannya seperti apa. Rebutan SKS di kampus saja bisa kacau, gimana kalau satu negara rebutan ya?

Setelah dokter muda selesai menjalankan masa internship, mereka akan mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dan bebas untuk melamar pekerjaan di klinik, RS, buka praktik sendiri, atau melanju tkan pendidikan spesialis.

Waktu yang dibutuhkan seorang mahasiswa kedokteran dari awal kuliah hingga bisa buka praktik adalah minimal 7 tahun. Wah, benar-benar lama ya. Namun, wajar saja kok, sebab jadi dokter gak bisa main-main, jika asal-asalan, nyawa manusia adalah taruhannya.

Baca Juga: 5 Manfaat Mengikuti Program Internship Bagi Calon Programmer

Gimana? Sudah paham perbedaan co-ass dan program internship Kemenkes? Untuk informasi lainnya tentang dunia perkuliahan, yuk jelajahi goKampus! Daftar kuliah di goKampus, tinggal upload rapor, 1 jam diterima! Mau kemudahannya? Cobain daftar kuliah dengan instant approval di sini.

Oh iya, jangan lupa juga untuk asah soft skill kamu sebelum praktik menjadi dokter. Soft skill yang gak kalah penting untuk kamu asah di antaranya kemampuan komunikasi dan mendengarkan, loh.

Apalagi kalau kamu tertarik menjadi dokter, kamu harus punya soft skill yang baik. Untuk mengasah soft skill, kamu bisa mengikuti kelas Komunikasi yang Efektif di sini dan kelas Keterampilan Mendengarkan yang Efektif di sini.

Gak hanya mengasah soft skill dan upgrade diri, kamu akan dapat beragam insight dari profesional yang berpengalaman di bidangnya, plus dapat sertifikat dari institusi ternama yang dapat menunjang karier kamu ke depannya. Yuk, ikutan kelasnya sekarang secara online!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *